Ancol n’ Dufan

October 17th, 2006 by irha

17 October 2006

Dua hari yang lalu, gw ke Dufan (ck…ck…ck…), berhubung rame2 gw mau aja ikut, ditambah lagi gw mesti jagain 2 anak kecil titipan tante gw yang enggak bisa ikutan. Alhasil, kesana lah gw setelah terakhir gw kesana sekitar hmm….kira2 lima bulan yang lalu kali ya..?

Sekarang harganya gila-gilaan, tapi secara lagi ada potongan bulan Ramadhan 50% gw mau aja dateng hari Minggu. Padahal bisa dipastikan untuk diskon segede itu ditambah itu hari Minggu, pasti ngantrinya kayak cendol…duh ples keringet, ples sebel, ples pegel, ples aus, ples-ples deh.

Berangkat kesana udah kesiangan sekitar jam 12an kali ya? Dateng juga enggak langsung masuk n’ hepan, masih main tunggu2an sama rombongan haji berikutnya hihihihihi (enggak ding…rombongan mobil lain maxutna). Baru jreng dateng langsung disuguhin makanan biar pada enggak kram perut. Menunya Nasi goreng ayam ples telor minus minum hehehehehhe (gak kumplit neh menunya..masa minumnya beli ndiri?? dah gitu gak bisa refill lagi….). Setelah perut lumayan keisi permainan pertama yang didatengin…?? kuda-kudaan….(hwakakakkakakakakkakakak…..). Emang kalo udah ketempat keriaan gitu enggak mandang umur lagi ya? semua orang pasti suka dan udah enggak pake gengsi lagi, dah ditinggalin dirumah masing2.

Dan sebagainya….dan sebagainya…. kesimpulan gw waktu itu, gile… ternyata tempat yang udah bertahun-tahun berdiri dan sedikit banget perubahannya itu masih aja digilai banyak orang. Permainan baru yang gw temuin enggak banyak, kayaknya cuma kincir-kincir, perang bintang sama meteor (3D). Selebihnya masih sama, malah ada juga yang berkurang, kayak Ramashinta udah enggak ada (karena sekarang kulit shinta sudah tidak putih lagi hihihihihi).

Satu lagi yang masih gw kagum, Istana Boneka… hwakakakakkakakka….bayangin dong, isinya cuma boneka muter-muter kaku dan kita keliling pake perahu, tapi tetep kemarin itu ngantrinya juga lumayan lama…ck..ck…ck… yang dateng juga enggak selalu anak kecil2, banyak juga orang2 dewasa yang ikutan ngantri. Belum pernah atau nostalgia jaman dulu?? tau deh…!!

Beda dari yang terakhir gw kesana, kali ini enggak banyak permainan yang gw datengin. Secara antrinya bikin gw pegel, gw juga bawa anak kecil yang gak mungkin naik permainan yang aneh2. Dan satu lagi, panaaaaaasssssss…….. doh enggak betah gw…! bikin pusing kepala.

Hmm…gw belum ngomongin Ancol ya? padahal banyak banget yang mau gw liat di Ancol, udah lama gw enggak jalan2 disitu. Tiap kali ada kesempatan kesana, paling banter ke Dufan, disekitaran Ancolnya cuma numpang lewat. Padahal kayaknya udah banyak banget perubahannya ya? Gw pengen banget liat Le’Bridge, restoran baru yang kayaknya tempatnya seru dan romantis.

Dulu yang gw tau Ancol itu, kotor, berantakan, tempat orang pacaran dan makanannya mahal, enggak tau lagi sekarang… huhuhu kangen jugaaaa…..liat sunset seru kali ya?? Ada yang mau ngajak gw kesana lagi???

My good ol’days

October 11th, 2006 by irha

12 October 2006 @7:54 am

Baru itungan sehari umur gw jadi 29 hari ini. Ada yang beda? engga ada tuh, biasa aja, like usual. But thank God, I am still here safe and sound..! Idup, nafas, dan masih bisa menikmati hari-hari gw. That’s the most important thing kan???

Back to my good ol’days… apa aja ya yang udah gw lewatin? banyak banget kayaknya. Banyak sedih, banyak seneng, banyak pelajaran, banyak temen, banyak musuh, banyak bingung, banyak kangen…..banyak pokoknya.

Seperti tahun lalu, ternyata kemarin gw lewatin lagi2 sama Mia dan Njunk (refer ke cerita gw tahun lalu). Cuma bedanya sekarang enggak ada wiwiek dan selingkuhannya heehehheheheh….

Thanks to all you guys yang masih inget gw dan masih ngingetin gw sama umur gw yang makin nambah. Seperti tahun lalu juga, ‘Dia’ enggak ada!! dan sepertinya bagusnya seperti itu aja ya? tapi…hmmm kira2 dia inget enggak ya? (aaaaauuuuuuuukkkkkkkkkk deh…).

Seperti tahun lalu juga gw, mia n Njunk cuma ngobrol2 aja…. eh taun lalu enggak cuma ngobrol2 ding.. Well, kesimpulannya enggak ada yang beda, enggak ada yang spesial….!! tidak ada orang spesial, tidak ada kegiatan spesial, tidak ada moment yang spesial…semuanya standard…plain….garing….apa lagi ya? gitu deh….

October 9th, 2006 by irha

10 Oktober 2006 @ 3:33 am

One more day, and I will be 29 y.o. tua yah?? hehehhh gw enggak berasa banget kalo udah seumur itu. Hidup gw kebanyakan santai mungkin ya? enggak tau deh..! Gw harap gw berubah..! lebih dewasa, lebih bisa berfikiran jernih dan masuk akal…! Sekarang sih gw blom bisa ngomong apa2 tapi kita liat besok….ngaruh engak ya????

Ngantuk

October 5th, 2006 by irha

6 October 2006

Hari ini gw ngantuk banget….eh tepatnya sekarang ini (12:35) secara gw belum tidur dari kemarin, dan otak, badan dan kepala gw bener2 gw pake kerja ehehehehhehe……. ya mikir, ya duduk, ya berdiri, ya ngapain aja ya…??

trus sekarang gw enggak tau apakah gw akan istirahat ato enggak, karena mata mah lima watt, tapi otak masih 3000 watt (nah loh….!).

Btw, gw hari ini bikin kolak loh heheeehe (pamer…!)

Kalau Saja

October 2nd, 2006 by irha

Kalau saja gila bisa dipesan dan dibeli, aku akan memesannya satu untukku.

Kalau saja sepi bisa dipajang dan dikagumi, orang-orang pasti akan mengelilingi etalase yang kubuat.

Kalau saja sedih bisa dirajut, pasti sudah jadi satu buah lemari berisi baju rajutanku sendiri.

Kalau saja amarah bisa dijadikan olesan seperti margarine, aku akan mengolesinya pada roti sarapan pagiku.

Kalau saja pecundang bisa menjadi idola remaja, aku pasti seorang superstar atau Diva.

Kalau saja rasa takut bisa di rangkai menjadi sebuah kalung, sudah berat pasti leher ini dengan sejuta kalung-kalung yang kurangkai.

Kalau saja cinta bisa berwujud seperti manusia, berita dikoran pasti sudah penuh dengan berita bahwa aku membunuh seseorang.

Kalau saja kekecewaan bisa ditimbun seperti beras, pasti aku akan seperti juragan beras terbesar sejagat raya.

Kalau saja penasaran ini bisa digantikan dengan warna dan bentuk, lukisan abstrak yang tidak jelas bentuknya akan laku keras dipasaran dan aku menjadi pelukis terkenal.

Kalau saja ingatan bisa di ganti warna, akan ku ganti ingatanku dengan warna hitam agar tidak ada lagi yang bisa dilihat.

Kalau saja aku bisa membalikkan waktu, sudah pasti akan kupilih waktu disaat aku tidak mengenalnya.

Kalau saja dia bisa melihat apa yang kurasa, dia akan memilih untuk buta dan bergantung pada tongkat.

Kalau saja semua ini tidak terjadi, aku akan bahagia. Aku yakin itu!! Tapi itu semua, kalau saja…!

Mati Sendiri (copied from irha.multiply.com)

September 23rd, 2006 by irha

Blog Entry Mati Sendiri Sep 20, ‘06 6:32 AM
for everyone

Kembali ia duduk dengan tangan dilipat seperti orang yang mau menanti kereta datang dengan tidak sabar. Sepertinya otak orang itu tidak bisa lagi dimasukan apapun, tidak juga satu buah huruf saja. Padahal, otak itu katanya bisa menampung sekitar dua juta jilid buku!! Seperti perpustakaan terbesar didunia!! tapi entah apa otak itu sudah kelebihan kapasitas, atau memang ada beberapa bagian yang rusak? Bad Sector, huh? Sepertinya harus di defrag seperti layaknya file komputer, atau mungkin lebih baik jika sebelumnya dibersihkan dulu dari sampah-sampah otak yang tidak ada gunanya? Entah lah!

“Permisi! Ada pesanan lain atau ada yang bisa ditambah? Minuman atau makanan kecilnya mungkin?” tanya pelayan tempat itu dengan ramah. Ramah atau memang ia ‘harus’ ramah terhadap semua pelanggan? Tapi sepertinya pertanyaan itu memang benar-benar ramah sehingga membuat orang itu tersenyum dan, “Mungkin minuman ini bisa ditambahkan satu gelas lagi? Dan tolong saya minta menunya, mungkin lebih baik saya mulai makan ‘berat’” balas orang itu, juga dengan sikap yang ramah dan mungkin ditambah karena ia merasa sudah seharusnya ia menambah pesanannya berhubung sudah lebih dari satu jam dia duduk ditempat itu.

Beberapa detik dari kejadian ramah tamah itu, sepertinya otak orang itu kembali ditarik keruang kosong tak berbatas. Diam, dan matanya menerawang seakan-akan sedang mencoba mengukur batas langit. Tiba-tiba, jantungnya berdegup sangat cepat, secepat pelari yang berlomba untuk menang. Mata dan pikirannya menangkap bayangan yang sepertinya tidak asing lagi. Walau bayangan itu hampir tidak berwarna dan tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang, rasa itu tetap tertangkap oleh hatinya bagai hidung anjing pelacak.

Di ujung sana, diujung kekosongan yang kini mulai terisi dengan kepingan-kepingan ingatan, berdiri dengan angkuhnya - seseorang. Seseorang yang telah lama orang itu rindukan. Semakin bayangan itu jelas, semakin pula orang itu, ingin membunuhnya! Itukah rindu dari orang itu? Rindu yang menghasilkan jiwa pembunuh? Rindu yang mengerikan!

Kepingan-kepingan itu mulai merapat satu sama lain membentuk sesuatu yang mirip mimpi buruk. Orang itu terhenyak sesaat, tetapi kemudian ia menunggu detik demi detik kepingan itu membentuk. Ia tidak ingin mencegahnya karena ia ingin menghancurkannya sama sekali tepat pada saat kepingan itu membentuk sesuatu yang sempurna.

Tapi tidak! Ada yang menghentikan kepingan itu bersatu. Entah apa dan bagaimana mungkin? Tiba-tiba…

“Maaf, ini pesanan Anda. Selamat menikmati! Anda bisa panggil saya jika membutuhkan sesuatu.” Suara pelayan tadi mengagetkan orang itu dan menyadarkannya untuk kembali ke dunia nyata. “Oh iya, terima kasih!” balas orang itu dengan sedikit kaku. Untuk sepersekian detik orang itu kehilangan moment penggabungan kepingan-kepingan ingatan itu.

Makanan itu tidak tersentuh untuk beberapa waktu, sampai kemudian orang itu menjadi bosan akan tontonan yang menyakitkan itu. Bagaimana kepingan itu, satu-satu, membuatnya mati jiwa. Bagaimana kepingan-kepingan itu mengiris-iris hampir semua sisi tubuhnya. Ia makan dengan pelan seakan-akan takut tersedak dan kemudian mati. Ia tidak ingin ada berita di koran kota: “Seseorang telah ditemukan tewas pada saat makan direstaurant X”. kasihan reputasi tempat ini bisa hancur oleh seorang pecundang macam dirinya. Kasihan pula dirinya yang mati tidak terhormat.

Sudah menjadi cita-citanyalah untuk mati secara terhormat. Tapi sepertinya skenario yang sudah dirancang baik, bisa hancur dalam sepersekian juta detik. Walaupun orang itu tidak akan mati tersedak, tapi sepertinya orang itu akan mati tertindih bayangan yang mungkin tidak mempunyai berat tapi bisa membuat orang mati.

Jiwa orang itu marah, ia tidak ingin mati karena cinta. Ia ingin mati karena benci. Mati dan kemudian menghantui semua orang yang dianggapnya laknat dan membuat ia punya rasa benci.

Tiba-tiba, orang itu menangis untuk pertama kalinya sejak ia diciptakan menjadi seorang pecundang. Ia menangis, entah untuk apa. Jiwanya yang menangis. Sekilas terbesit aura senang dimatanya walaupun ia menangis. Senang karena ternyata jiwanya masih bisa menangis. Sesuatu yang sekiranya mustahil, seperti mengejar angin.

Dikejauhan, mata menyelidik dan simpati terlihat. Pelayan tadi rupanya memperhatikan orang itu dari awal. Makanan itu hanya menjadi korban sendok dan garpu yang dimainkan diatasnya. Bahkan tubuh itu tidak juga bergerak seinci pun dari tadi. Pelayan itu takut kalau kemudian orang itu akan menjadi kaku dan kemudian jatuh. Pecah berkeping-keping dan berserakan. Simpati atau memang pelayan itu tidak mau mempunyai pekerjaan tambahan untuk membersihkannya? Kembali lagi, ternyata perasaan pelayan tadi tulus, karena kemudian ia mulai bergerak perlahan mendekati orang itu.

“Ini bisa Anda pakai, mungkin Anda lebih butuh ini dari pada makanan,” sahut pelayan itu iba sambil menyodorkan selembar tissue tanpa pewangi yang diambilnya dari atas laci tempat peralatan. Kepala orang itu mendongak sedikit untuk kemudian tertunduk lagi. Semburat merah tampak dipipinya menandakan orang itu merasa sedikit malu. Malu karena tertangkap basah sedang mematung dan mungkin kelihatannya hendak bunuh diri.

“Maaf dan terima kasih” sahut orang itu lirih sambil kemudian menyambut tissue yang disodorkan pelayan tadi. Sambil tersenyum hangat, pelayan tadi beranjak pergi kembali kesudut pemantauannya. Tempat yang strategis untuk mengamati sekitarnya. Orang itu kemudian  menghela nafas panjang, tanda ada yang menyesakkan dadanya. Berat dan panjang. Seandainya bisa mengeluh, mungkin sudah berkilo-kilo keluhan yang dikeluarkan orang itu. Tapi untuk sekedar merangkai beberapa huruf pun ia sudah tidak mampu. Seperti yang digambarkan awal tadi, tidak sehuruf pun bisa masuk ke otak orang itu lagi. Penuh sesak!

Seakan-akan mengerti apa yang terjadi, pelayan tadi kembali bergerak maju mendekati orang itu dan kemudian berkata, “Boleh saya duduk disini? Seandainya saya tidak mengganggu, boleh saya menemani Anda makan?” Ah, merdunya suara pelayan tadi terdengar di kuping orang itu. Senyumnya hangat dan pandangannya menentramkan hati. Orang itu mengangguk pelan tanda setuju.

Tanpa ada aba-aba ataupun suara peluit, orang itu mulai berkata-kata sambil masih memainkan makanan didepannya. Awalnya hanya satu-dua kalimat semu. Tanpa sadar orang itu sudah menumpahkan segala yang ada dipikirannya dan juga menceritakan progress yang terjadi pada kepingan-kepingan yang sekarang tampaknya sudah mendekati tahap selesai. Tanpa kata-kata! Ya benar, tanpa kata-kata!!

Pelayan tadi hanya tersenyum seperti sedang bertelepati dengan orang itu. Tampaknya usaha pelayan tadi berhasil, dilihat dari gerakan-gerakan berarti yang dibuat orang itu untuk, makan! Tujuan utama yang sudah terlupakan.

Tepat pada saat kepingan itu selesai membentuk, mata orang itu tiba-tiba terbelalak dan kemudian ia berkata dengan sedikit tertahan: “Mengapa? Katakan mengapa??”

Dengan sigap pelayan tadi meraih tangan orang itu dan kemudian menggenggamnya dan gemuruh besar yang hampir meledak itu meredam perlahan.

Pelayan tadi mengerti, orang itu tidak butuh kata-kata. Orang itu tidak butuh disuapi. Orang itu tidak butuh hiburan. Orang itu hanya butuh duduk dan ditemani dengan hati yang tulus, dan juga bon yang sudah didiskon separuh harga.

Song of the Day

September 17th, 2006 by irha

By Your Side  - Sade

you think i’d leave your side baby
you know me better than that
you think i’d leave you down when you’re down on your knees
i wouldn’t do that
i’ll tell you you’re right when you want
and if only you could see into me
ha ah ah ah ah ah

oh when you’re cold
i’ll be there
hold you tight to me

when you’re on the outside baby and you can`t get in
i will show you you’re so much better than you know
when you’re lost and you’re alone and you cant get back again
i will find you darling and i will bring you home

and if you want to cry
i am here to dry your eyes
and in no time
you’ll be fine

you think i’d leave your side baby
you know me better than that
you think id leave you down when you’re down on your knees
i wouldn’t do that
i’ll tell you you’re right when you want
and if only you could see into me
ha ah ah ah ah ah

oh when you’re cold
i’ll be there
hold you tight to me
when you’re low
i’ll be there
by your side baby

oh when you’re cold
i’ll be there
hold you tight to me
oh when you’re low
i’ll be there
by your side baby

Note: You know that I’ll never leave your side….why did you hurt me so bad?

August 30th, 2006 by irha

The orange flames burns out the heart

It comes up to the sky slowly

And disappear within clouds

The blue light gulp up the eyes

Along with the pink burst of love

Shadows keep following the feeling

And it darken the sight

It has lost into strange places

And broken into pieces

No glues can bonds the part

It’s gone

And will never be come out

Again..!

No need a brainy to solve the mystery

Since all I felt just a misery

Please bring back my days

With no broken and spoil    

Dreaming

August 30th, 2006 by irha

I was dreaming all this time

Lived a life in a perfect rhyme

Being loved and fall in love

While hoping it will be as white as a dove

The questions was haunting

Whether that was a real or lying

Avoid the darkness

Just to win the tenderness

I just woke up a couple of minutes ago

And it shocked me that you were just my alter ego

You are not real

And that’s the fact that I should deal

Loving you was tiring

But to see the fact was also hurting

Can’t throw what I should throw

Coz loving you makes me want to see tomorrow

Even though I’m still in sorrow

Losing you made my heart hollow

Thank you for letting me hurt

Coz it means that I am still alive..!!!

Kenapa jadi Durian yang Salah?

August 30th, 2006 by irha

7 Aug 06

Ternyata dulu waktu gw kecil katanya gw seneng banget sama yang namanya “DURIAN”, how come….??? Kenapa gw enggak inget sama sekali ya kalau pernah suka sama buah yang sekarang bisa bikin gw mual dan pusing dengan hanya mencium baunya. Mungkin ada satu peristiwa atau kejadian yang bikin gw jadi menghindari banget buah yang kata hampir semua orang buah teruueeennaaakkk sedunia.

Sama seperti gw yang jadi tiba2 benci sama “ROTI ISI KELAPA”. Dulu kejadiannya terjadi sebelum kepergian Eyang Kakung gw. Enggak tau kenapa siang itu gw rebutan “ROTI ISI KELAPA” yang dibeli sama Eyang sendiri, dulu itu mungkin memang Eyang Cuma bercanda tapi gw sempet marah, sampai pada malam harinya, dia pergi… selamanya dan buat anak sekecil gw yang begitu disayang dan menyayangi dia, menjadikan itu satu trauma yang gw sendiri tidak sadari.

Banyak sekali kejadian2 yang mungkin terjadi tanpa kita sadari dan menjadikan itu suatu hal yang nantinya akan kita benci atau kita hindari, dan sekali lagi gw bilang, mungkin ini tidak akan kita sadari.

Itu terjadi sama gw. Berkali-kali, dan tidak sekalipun gw sadari. Setelah gw meluangkan sedikit waktu untuk melihat lagi apa yang sudah terjadi selama ini (entah dengan berbagai cara gw melihat lagi kebelakang), gw mendapatkan jawaban, BODOH…!!!. Itu jawaban satu-satunya yang gw rasa masuk akal.

Setelah sekian tahun gw mendedikasikan hati gw, seperti layaknya seorang guru mendedikasikan waktunya untuk muridnya tercinta, hanya kehampaan yang gw terima, karena ada sesuatu yang tiba2 menjadikan kebencian bagi gw. Perasaan takut sepi dan marah pada apa yang sudah terjadi membuat gw membuang semua hal yang baik dari diri gw sendiri. Membuang satu2nya akal sehat yang gw punya. Membuang semua kesempatan emas yang gw dapatkan dan membuang semua cinta yang ditujukan pada diri gw.

See, benar kan apa yang gw bilang barusan, kalau jawabannya hanya, BODOH..!?

Tapi gw tidak akan melimpahkan semua kesalahan pada satu frase kata kalau kita manusia yang tidak sempurna. Ya, memang kita tidak sempurna, tapi semua itu terjadi karena gw yang memulai dan gw yang menciptakan. Kita tidak bisa menyalahkan pada tanah yang buruk sehingga hasil yang dibuat oleh tukang tembikar itu jelek. Tapi bukannya semua itu juga tergantung pada keahlian tukang tersebut untuk membuat sesuatu yang indah dari hal yang buruk sekalipun?

Gw terlalu naïf untuk melihat segala sesuatu hanya berdasarkan apa yang mau gw lihat. Gw tidak menyadari ada hal-hal lain yang menjadi faktor pendukung atas segala hal.