Film Lama
Thursday, January 18th, 200718 January 2007 @ 11:19 am
Aku hampir mati bosan duduk dibangku itu karena film lama itu kembali diputar dihadapanku. Film yang sudah berjuta-juta kali diputar dan diputar lagi tanpa memperdulikan apakah aku bosan atau tidak. Film lama yang mungkin pitanya pun sudah mulai menipis lalu kemudian akan rapuh dan hancur. Mungkin aku hanya bisa menunggu moment kehancuran itu tiba baru bisa terbebas dari rasa bosan karena film yang diputar berulang-ulang itu.
Tapi terkadang, ada saat di mana aku benar-benar menikmati sajian adegan demi adegan yang sudah bbrp kali kulihat. Kadang ditengah-tengah cerita membosankan itu, ada improvisasi adegan yang diluar skenario awal. Entah itu ceritanya yang bervariasi, entah waktunya yang kadang maju atau mundur.
Film itu intinya menceritakan tentang kisah anak manusia yang jatuh cinta dan menjadi bodoh. Jatuh cinta lalu kemudian menjadi buta, buta akan segala hal yang ada didepannya.
Ada satu adegan yang kuingat jelas, yaitu saat sang lelaki pergi begitu saja meninggalkan cerita yang tengah berlangsung dan meninggalkan gadis bodoh itu. Awalnya kupikir peran laki-laki itu hanya akan digantikan oleh orang lain, lalu meneruskan ceritanya. Tapi ternyata tidak! Peran itu tidak tergantikan dan kini pemainnya hanya tinggal si gadis bodoh itu, anak manusia yang jatuh cinta dan menjadi bodoh.
Lalu kemudian ada satu sisipan cerita baru ditengah-tengah cerita perpisahan yang menyakitkan itu. Tiba-tiba ada dua pilihan yang harus di buat oleh si gadis bodoh. Dipertemukan kembali oleh sang lelaki yang sangat dicintainya itu atau sama sekali tidak ada pertemuan kembali?
Kau tau? Rasanya ingin kutulis sendiri lanjutannya untuk adegan yang satu itu. Karena aku tau apa yang kira-kira akan dipilih oleh gadis bodoh itu. Gadis itu akan sedikit saja menjadi pintar kali ini. Si gadis akan memilih untuk tidak pernah lagi bertemu, karena, pertama; pertemuan kembali dengan lelaki itu akan lebih menyakitkan daripada saat si gadis kehilangan sang laki-laki. Kedua: sudah pasti si gadis tidak akan pernah lagi melepaskan tangan sang laki-laki. Beberapa kali aku menemukan adegan-adegan dimana sang laki-laki itu pergi dan kembali, lalu pergi lagi dan kembali lagi, begitu terus beberapa kali, dan beberapa kali pula kulihat bagaimana gadis itu selalu bersedia melepaskan tangan laki-laki itu untuk kebahagiannya. Ketiga: gadis itu takut jatuh cinta lagi ke orang yang sama setelah sekian tahun ia menderita karena cintanya.
Ah, namanya juga gadis bodoh, aku yakin suatu waktu ia akan merubah sendiri alur ceritanya dan membuatnya tambah rumit.