Mati Sendiri (copied from irha.multiply.com)
| Mati Sendiri | Sep 20, ‘06 6:32 AM for everyone |
Kembali ia duduk dengan tangan dilipat seperti orang yang mau menanti kereta datang dengan tidak sabar. Sepertinya otak orang itu tidak bisa lagi dimasukan apapun, tidak juga satu buah huruf saja. Padahal, otak itu katanya bisa menampung sekitar dua juta jilid buku!! Seperti perpustakaan terbesar didunia!! tapi entah apa otak itu sudah kelebihan kapasitas, atau memang ada beberapa bagian yang rusak? Bad Sector, huh? Sepertinya harus di defrag seperti layaknya file komputer, atau mungkin lebih baik jika sebelumnya dibersihkan dulu dari sampah-sampah otak yang tidak ada gunanya? Entah lah!
“Permisi! Ada pesanan lain atau ada yang bisa ditambah? Minuman atau makanan kecilnya mungkin?” tanya pelayan tempat itu dengan ramah. Ramah atau memang ia ‘harus’ ramah terhadap semua pelanggan? Tapi sepertinya pertanyaan itu memang benar-benar ramah sehingga membuat orang itu tersenyum dan, “Mungkin minuman ini bisa ditambahkan satu gelas lagi? Dan tolong saya minta menunya, mungkin lebih baik saya mulai makan ‘berat’” balas orang itu, juga dengan sikap yang ramah dan mungkin ditambah karena ia merasa sudah seharusnya ia menambah pesanannya berhubung sudah lebih dari satu jam dia duduk ditempat itu.
Beberapa detik dari kejadian ramah tamah itu, sepertinya otak orang itu kembali ditarik keruang kosong tak berbatas. Diam, dan matanya menerawang seakan-akan sedang mencoba mengukur batas langit. Tiba-tiba, jantungnya berdegup sangat cepat, secepat pelari yang berlomba untuk menang. Mata dan pikirannya menangkap bayangan yang sepertinya tidak asing lagi. Walau bayangan itu hampir tidak berwarna dan tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang, rasa itu tetap tertangkap oleh hatinya bagai hidung anjing pelacak.
Di ujung sana, diujung kekosongan yang kini mulai terisi dengan kepingan-kepingan ingatan, berdiri dengan angkuhnya - seseorang. Seseorang yang telah lama orang itu rindukan. Semakin bayangan itu jelas, semakin pula orang itu, ingin membunuhnya! Itukah rindu dari orang itu? Rindu yang menghasilkan jiwa pembunuh? Rindu yang mengerikan!
Kepingan-kepingan itu mulai merapat satu sama lain membentuk sesuatu yang mirip mimpi buruk. Orang itu terhenyak sesaat, tetapi kemudian ia menunggu detik demi detik kepingan itu membentuk. Ia tidak ingin mencegahnya karena ia ingin menghancurkannya sama sekali tepat pada saat kepingan itu membentuk sesuatu yang sempurna.
Tapi tidak! Ada yang menghentikan kepingan itu bersatu. Entah apa dan bagaimana mungkin? Tiba-tiba…
“Maaf, ini pesanan Anda. Selamat menikmati! Anda bisa panggil saya jika membutuhkan sesuatu.” Suara pelayan tadi mengagetkan orang itu dan menyadarkannya untuk kembali ke dunia nyata. “Oh iya, terima kasih!” balas orang itu dengan sedikit kaku. Untuk sepersekian detik orang itu kehilangan moment penggabungan kepingan-kepingan ingatan itu.
Makanan itu tidak tersentuh untuk beberapa waktu, sampai kemudian orang itu menjadi bosan akan tontonan yang menyakitkan itu. Bagaimana kepingan itu, satu-satu, membuatnya mati jiwa. Bagaimana kepingan-kepingan itu mengiris-iris hampir semua sisi tubuhnya. Ia makan dengan pelan seakan-akan takut tersedak dan kemudian mati. Ia tidak ingin ada berita di koran kota: “Seseorang telah ditemukan tewas pada saat makan direstaurant X”. kasihan reputasi tempat ini bisa hancur oleh seorang pecundang macam dirinya. Kasihan pula dirinya yang mati tidak terhormat.
Sudah menjadi cita-citanyalah untuk mati secara terhormat. Tapi sepertinya skenario yang sudah dirancang baik, bisa hancur dalam sepersekian juta detik. Walaupun orang itu tidak akan mati tersedak, tapi sepertinya orang itu akan mati tertindih bayangan yang mungkin tidak mempunyai berat tapi bisa membuat orang mati.
Jiwa orang itu marah, ia tidak ingin mati karena cinta. Ia ingin mati karena benci. Mati dan kemudian menghantui semua orang yang dianggapnya laknat dan membuat ia punya rasa benci.
Tiba-tiba, orang itu menangis untuk pertama kalinya sejak ia diciptakan menjadi seorang pecundang. Ia menangis, entah untuk apa. Jiwanya yang menangis. Sekilas terbesit aura senang dimatanya walaupun ia menangis. Senang karena ternyata jiwanya masih bisa menangis. Sesuatu yang sekiranya mustahil, seperti mengejar angin.
Dikejauhan, mata menyelidik dan simpati terlihat. Pelayan tadi rupanya memperhatikan orang itu dari awal. Makanan itu hanya menjadi korban sendok dan garpu yang dimainkan diatasnya. Bahkan tubuh itu tidak juga bergerak seinci pun dari tadi. Pelayan itu takut kalau kemudian orang itu akan menjadi kaku dan kemudian jatuh. Pecah berkeping-keping dan berserakan. Simpati atau memang pelayan itu tidak mau mempunyai pekerjaan tambahan untuk membersihkannya? Kembali lagi, ternyata perasaan pelayan tadi tulus, karena kemudian ia mulai bergerak perlahan mendekati orang itu.
“Ini bisa Anda pakai, mungkin Anda lebih butuh ini dari pada makanan,” sahut pelayan itu iba sambil menyodorkan selembar tissue tanpa pewangi yang diambilnya dari atas laci tempat peralatan. Kepala orang itu mendongak sedikit untuk kemudian tertunduk lagi. Semburat merah tampak dipipinya menandakan orang itu merasa sedikit malu. Malu karena tertangkap basah sedang mematung dan mungkin kelihatannya hendak bunuh diri.
“Maaf dan terima kasih” sahut orang itu lirih sambil kemudian menyambut tissue yang disodorkan pelayan tadi. Sambil tersenyum hangat, pelayan tadi beranjak pergi kembali kesudut pemantauannya. Tempat yang strategis untuk mengamati sekitarnya. Orang itu kemudian menghela nafas panjang, tanda ada yang menyesakkan dadanya. Berat dan panjang. Seandainya bisa mengeluh, mungkin sudah berkilo-kilo keluhan yang dikeluarkan orang itu. Tapi untuk sekedar merangkai beberapa huruf pun ia sudah tidak mampu. Seperti yang digambarkan awal tadi, tidak sehuruf pun bisa masuk ke otak orang itu lagi. Penuh sesak!
Seakan-akan mengerti apa yang terjadi, pelayan tadi kembali bergerak maju mendekati orang itu dan kemudian berkata, “Boleh saya duduk disini? Seandainya saya tidak mengganggu, boleh saya menemani Anda makan?” Ah, merdunya suara pelayan tadi terdengar di kuping orang itu. Senyumnya hangat dan pandangannya menentramkan hati. Orang itu mengangguk pelan tanda setuju.
Tanpa ada aba-aba ataupun suara peluit, orang itu mulai berkata-kata sambil masih memainkan makanan didepannya. Awalnya hanya satu-dua kalimat semu. Tanpa sadar orang itu sudah menumpahkan segala yang ada dipikirannya dan juga menceritakan progress yang terjadi pada kepingan-kepingan yang sekarang tampaknya sudah mendekati tahap selesai. Tanpa kata-kata! Ya benar, tanpa kata-kata!!
Pelayan tadi hanya tersenyum seperti sedang bertelepati dengan orang itu. Tampaknya usaha pelayan tadi berhasil, dilihat dari gerakan-gerakan berarti yang dibuat orang itu untuk, makan! Tujuan utama yang sudah terlupakan.
Tepat pada saat kepingan itu selesai membentuk, mata orang itu tiba-tiba terbelalak dan kemudian ia berkata dengan sedikit tertahan: “Mengapa? Katakan mengapa??”
Dengan sigap pelayan tadi meraih tangan orang itu dan kemudian menggenggamnya dan gemuruh besar yang hampir meledak itu meredam perlahan.
Pelayan tadi mengerti, orang itu tidak butuh kata-kata. Orang itu tidak butuh disuapi. Orang itu tidak butuh hiburan. Orang itu hanya butuh duduk dan ditemani dengan hati yang tulus, dan juga bon yang sudah didiskon separuh harga.