Matilah kau Dengan Tenang

30 August 2006

Apa yang kucari selama ini? Duduk kembali aku ditempat dulu biasa kita bertemu. Duduk untuk kemudian tertawa bersama, bercerita, bahkan mungkin untuk beradu mulut. Ah, ingatan itu tidak pernah bisa hilang, ia tetap mengikutiku seperti bayangan, hanya saja, sebuah bayang akan hilang jika sinar datang. Tapi tidak dengan bayangan ini, terang pun tidak pernah bisa punya arti yang penting baginya.

Kutatap lagi orang yang bisa kujangkau dengan pandangan mataku, semuanya tampak sama, sepertinya itu sudah merupakan satu pola yang sudah di hak patenkan. Semua sama, tapi tidak dengan keadaanku. Kembali ku layangkan pikiranku, jauh kebelakang, disaat mana aku bisa mencintai hari, disaat mana aku bisa tertawa dan berdebar. Kedengarannya aku jadi seperti penyair gagal yang ditolak oleh pihak penerbit.

Seolah-olah gambaran jelas hadir di depanku, saat aku masih bisa merasakan semuanya. Sekarang hilang ditiup angin, entah kapan angin itu akan bertiup kembali ke sebelahku.

Semua kata-katamu berubah menjadi ujung tombak bagiku sekarang. Ingin kulempar kau jauh-jauh untuk kemudian mati dan membusuk. Tapi sekali lagi, kedengarannya aku jadi seperti penjahat kacangan yang di hukum layaknya pembunuh berantai.
Inginnya aku menyangkal semua yang keluar dari otakku, tapi semua itu terhalang oleh tahun-tahun yang sudah kita lewati bersama.

Aku buta dan menjadi gelap, hatiku keruh dan tidak lagi bisa dikenali. Hanya pandangan kosong yang ada setiap aku mengingat kembali semuanya.
Buang saja buku hidup mu, selesai sudah semuanya. Tapi satu kata yang ingin ku ucapkan sebelum kau mati, “Mengapa?” Dan kau dapat mati dengan tenang.

One Response to “Matilah kau Dengan Tenang”

  1. Andy Says:

    All I ever wanted is in you:
    Love, laughter, a pillow for my fears.
    I want to give and to be given to
    So I might feel myself flow through the years
    Alive in you, the wonder of my tears.

Leave a Reply