Lelah

Hari ini, 5 June 2006

Adabanyak kesedihan disela-sela wajahnya yang angkuh, ada kesuraman terbayang didepan kamarnya yang kecil.

Ada rasa iri terbesit dimatanya saat dia memandang orang-orang yang lalu lalang pergi pagi-pagi dan pulang pada saat jauh malam.

Ada rasa patah semangat yang keluar disetiap helaan nafasnya.

Aku tau dia lelah, aku tau dia ingin sekali berteriak, aku juga tau kalau dia ingin sekali menangis. Tapi dia tetap laki-laki, sebuah ciptaan Tuhan yang sepertinya pantang untuk mengeluarkan air mata. Ingin kukatakan padanya bahwa menangis itu manusiawi. Akan kulempar dengan batu orang-orang yang menganggap laki-laki pantang untuk menangis.

Kita duduk berhadapan dengan tatapan penuh dengan pembicaraan bisu. Aku tau dan mengerti apa yang dia rasakan dan dia ingin katakan. Bebannya berat tapi kaki dan tangannya terikat erat membatasi gerak tubuhnya.

Kita bosan dengan keadaan kita, bukan begitu teman? Entah apa dan bagaimana nantinya.

Kadang ingin kuajak kau duduk diam dan menangis, menangisi apa saja yang terjadi didalam diri saat ini dan kemarin dan esok. Entah itu kesedihan, kesepian, kelelahan atau kebahagiaan. Apa saja yang bisa kita rasakan.

Jakarta , 4 June 2006

Disini kembali kulihat wajah lelah dan sedihmu. Ingin rasanya kupeluk dan kukatakan, “tenang, aku ada disampingmu. Aku akan melindungi mu!” tapi tidak, mulut ini terkunci rapat, dan aku hanya bisa tersenyum.

Hari ini lagi, 5 June 2006

Haruskah aku bersama hati yang lain untuk bisa membuat mu melihatku dengan tatapan lembut? Haruskan sekali lagi aku berpura-pura mempunyai hari yang bahagia selain dengan dirimu untuk mendapatkan senyuman hangat dari mu? Aku lelah, semua itu hanya sandiwara. Maafkan aku! Tapi ini untuk kebaikan kita sayang..!

Leave a Reply