I remember you
Hari ini lagi-lagi kulakukan hal yang bodoh! Termenung sendiri, hmm tidak, tepatnya aku berada di tempat umum, sendirian, ditemani rokok, sedikit junk food, dan laptop setia ini (setiakah laptopku ini? Entah lah, belum kuuji kesetiaannya). Sedikitnya ada beberapa kata-kata yang ingin kukeluarkan dari otak ini sejak berminggu-minggu yang lalu.
Kembali peristiwa dulu terulang, tapi kali ini permintaan ‘aneh’ itu keluar begitu saja dari mulutku, dan jawaban yang sudah kutebak sebelumnya dikeluarkan juga, “Jangan, gue enggak mau ngecewain loe lagi, gue enggak mau pake hati dan loe kecewa sama gue! Loe teman terbaik yang pernah gue punya dan gue enggak mau kalau kita lebih dari sekedar teman lalu kita pisah, gue akan jauh dari loe!”
Damn! Jawaban klise yang sudah aku duga. Dukun? Tidak juga, tapi lebih karena aku tau dia, lebih dari apa pun dan siapa pun. Tapi tetap mengapa aku memberanikan mengeluarkan permintaan itu? Permintaan sederhana yang memang tidak mungkin lagi kudapat, tapi tetap kuminta. Aku hanya ingin mengecupnya, menciumnya seperti dulu. Kubodoh-bodohi diriku di sepanjang jalan
kota yang sangat aku rindu,
Bandung .
Kota yang penuh kenangan-kenangan Manis dan pahitku, entah bersamanya atau bukan.
“Loe itu udah kayak adik gue sendiri, kenapa sih permintaan loe itu aneh?”
Ingin rasanya saat itu aku berteriak ditelinganya: “I just miss you, that’s all! Is that a big sin for you?” Tapi tidak, yang kulakukan hanya diam dan meminta maaf. Kukatakan sudah sejak lama ku tinggalkan perasaan itu mati dilubuk hatiku, sudah ku terlantarkan perasaan itu dipadang gurun terjauh, aku tahu dan aku paham, bahwa garis kita tidak akan pernah bisa bertemu. Andai aku bisa seperti tikus tanah, ingin rasanya kugali gorong-gorong dan kupendam kepalaku disana.
Pembicaraan berlanjut lewat short msg yang dia kirim, “kita bicarakan hal yang tadi lain hari, kepala gue lagi buntu!” Huh! Tidak tahukah dia bahwa bahkan hatiku juga sudah ikutan buntu?
Kesempatan itu datang lagi, memang kalau kesempatan yang ‘mengundang’ pasti akan selalu ada disela-sela kesibukan. Another weekend gue lalui bersamanya (dan kebetulan bersama yang lain juga….). Saat itu dia yang terlebih dahulu membuka topik pembicaraan. Topik yang sebenarnya kuhindari karena aku tidak mau mengulang hasrat ingin menguburkan diri setelah membahasnya.
Akhir perdebatan (atau diskusi ya????) kudapati hasil yang membuatku tertawa geli. Hampir ku tinggal tidur orang yang berada disisiku malam itu (atau lebih tepatnya dini hari itu ya???) Aku tetap tidak mendapatkan permintaanku yang terakhir, tetapi ganti dari permintaan itu yang membuatku tidak ingin pulang keesokan harinya.
“Satu kali ini saja, gue akan lewatkan sama loe, dan khusus sama loe! Tapi ingat, tetap gue enggak mau pake hati, kita hanya kembali sejenak ke masa lalu! Gue mau loe senang!” (wah apa ya yang dia berikan untukku hari itu?)
So, I spent my precious moment with him. A moment, yang ku kira tak akan pernah kudapatkan lagi dari dia.
Back to what he was said to me, kalau dia enggak mau ada yang lebih dari hubungan kita dan lebih baik seperti ini saja (entah sampai kapan) kalau tidak mau saling kehilangan.
Haruskah aku merasa tersanjung, bahwa sampai kapanpun dia tidak mau jauh dan kehilanganku? Atau haruskah aku merasa terhina karena itu lah jawaban dia untuk menolak mentah-mentah diriku? Entah, dan aku sungguh tidak mengerti hingga kini.
Selang sekitar satu hari dari peristiwa itu, kejadian aneh ku alami lagi. Dia mulai aneh, dia mulai meminta hal yang tidak pernah kubayangkan akan keluar dari mulutnya. “Gue males pulang kerumah!” pikiranku melayang, membayangkan apa yang terjadi pada dirinya. Padahal, tidak terbesit sedikitpun pikiran jelek dikepalaku. “Minum yuk!” jawaban yang kuterima ketika ku Tanya ada apa. “Dziigh!!” serasa dihantam palu kepalaku rasanya. Betulkah dia yang ada di depanku saat ini? Sungguh?? Entah lah, aneh rasanya. Tapi tetap kuturuti, karena aku tahu pasti ada sesuatu yang mengganjal hatinya sampai dia mengucapkan itu. Pasti!
“Ok, kita mau kemana??”
Dan malam itu berakhir dengan seribu tanda Tanya dikepalaku.
Sebagian kepalaku mengatakan “Akhirnya, dia kembali percaya kepadaku. Kembali dia ungkapkan semua yang mengganjal hatinya selama ini. Tapi, sebagian dari hatiku yang paling dalam tiba-tiba sedih. Sedih pada saat memandang wajahnya yang penuh rahasia terpancar pada saat dia tertidur pulas.
Inikah yang aku mau? Inikah yang aku cari selama ini? Sepertinya tidak, walaupun egoku rasanya ingin berteriak, “Lebih baik aku tinggal bersamanya hingga siang! Aku tidak ingin kembali!!!”. Kesedihanku menyeretku pergi meninggalkan dia sendirian. Begitu banyak penderitaan yang dia alami, dan aku ingin dia bagi bersamaku.
Apakah aku masih mempunyai rasa itu? Rasa yang dulu membuatnya menjauh dariku? Inikah yang dinamakan cinta buta? Cinta yang tidak memandang apakah aku menderita karenanya atau tidak? Cinta yang tidak memandang apakah dia menerimanya atau tidak? Cinta yang tidak memandang apapun? Situasi apa pun? Tidak! Rasa itu tidak pernah ada lagi, rasa itu tidak akan pernah berani kembali hadir!
Aku ingin jauh darimu, tapi tidak sekarang, tunggu sampai aku siap. Entah kapan……
August 29th, 2005 at 9:19 am
nungguu… hmm…
bisa sedetik abis ini..
bisa sejam…
bisa sehari..
bisa setaon…
bahkan bisa juga sampe lo mati lo akan nunggu…
huhuhu…
balikin aza ama diri lo sendiri..
mo berapa lama lo berada diposisi begitu… huhuhu…
dacghh aahh… mo siap2 bunuh diri lagi gwe.. :))
ecgh jatah preman gwe mana..??
gwe udah nungguin lilin neh seharian.. ahahaha…