Bosan - 17th May 05

Sekitar 47 polisi tidur kulewati setiap paginya, dan tepat di urutan ke 20, pasti kulewati tukang sayur yang tidak pernah absen. Jika pada satu kesempatan tidak kutemui si abang yang setia menemani ibu2 ngerumpi, pasti itu tandanya aku terlambat pergi ke kantor (atau emang abangnya yang enggak jualan :p ). Rutinitas yang baru berjalan sekitar 1 bulan sudah bisa membuatku berucap, “Bosan!”. Tak ku kira baru kali ini aku bisa merasakan bosan pada rutinitas yang hampir 8 tahun kujalani. Pergi ke kantor pagi2 dan pulang pada saat hampir 90% penduduk Jakarta berlomba-lomba untuk tiba dirumah atau tiba ditempat lain selain “Kantor”!

Pagi ini, aku mulai dengan perasaan yang sangat tidak nyaman! Entah kenapa, kembali ku teringat semua yang sudah kulalui bersama “DIA”. Sampai saat ini kepandaianku hanya mengulang dan mengingat kejadian lama. “Flashback expert”, mungkin bisa menjadi salah satu alternatif profesiku yang baru. Bosan! Topikku mulai hari ini adalah bosan. Bosan menebak-nebak arah tujuanku sendiri. Bosan merasakan sakit dan sedih. Bosan menunggu datangnya sekilat kebahagiaan, bosan dan bosan!! Kembali kulihat sepotong wajah yang terpampang jelas di hatiku.

Semakin lama seolah-olah wajah itu berkata, “Tinggalkan dan lupakan aku!”. Anak bodoh! Tahukah dia bahwa untuk meninggalkan dan melupakannya butuh dua buah gunung batu yang menimpaku dan membuatku lupa ingatan. Butuh beribu-ribu dukun untuk membuatku bisa kembali seperti dulu lagi. Butuh aku mati mungkin untuk bisa meninggalkan dia. Aku tidak maju, juga tidak mundur! Berjalan ditempat dengan rasa sakit yang makin menggunung. Bisakah kulayangkan satu Doa kepada Sang Kuasa untuk mewujudkan keinginanku, hmmm…bisakah hubungan ini tanpa batas akhir? Bisakah aku tetap menjaga hubungan itu seperti apa adanya sampai selamanya? Bisakah kita tetap bersama tanpa harus mengganggu satu sama lain? Bisakah aku tetap menjaga hati ku seperti sekarang kepadanya? Bisakah dia tetap menganggapku sebagai seseorang yang akan tetap berada disisinya sampai kapanpun? Bisakah aku tetap memegang tangannya dan menjaganya siang dan malam? Bisakah aku tetap menjaganya biarpun akhirnya dia bersanding dengan orang lain? Bisakah aku tetap memberikan pundakku untuk tempatnya bersandar biarpun tangannya menggenggam tangan orang lain? bisakah aku tetap menunggu mimipi-mimpi malamku? Karena hanya ditempat itu lah aku bisa bersamanya? Pagi ini kulewati lagi jalan yang biasa kulalui menuju arah kantor! Mataku menerawang ditengah lalu lalang bus, mobil dan puluhan motor didepan, samping dan belakangku. Ingin rasanya kulompat dari atas ojek yang setia setiap pagi mengantarku pergi, lompat dan pergi, pergi dan tidak kembali, pergi ketempat dimana tidak ada yang mengenal hatiku, tidak juga diriku. Pergi ketempat dimana aku bisa tersenyum dan bisa tidak mengatakan, “BOSAN!”

Leave a Reply